Get This!Tutorial Blogger

Follow by Email

Cari Artikel

Loading...

EMPAT TAHUN MENGHUNI RUMAH HANTU



BAGIAN SATU
Tempat tinggal kami dulu termasuk dalam kawasan yang sepi, terutama pada malam hari. Memang tidak begitu jauh dari keramaian kota Cimanggis, merupakan salah satu kota di Depok. Konon orang bilang Depok adalah tempat Jin buang anak, namun tidak ada sedikitpun saya mempercayai perihal Jin buang anak dalam cerita-cerita orang.
Untuk mencapai rumah kami tersebut masih harus menggunakan jasa tukang ojek atau naik motor sendiri, karena belum ada angkot yang melewati daerah kami. Jarak dari Jalan Raya Bogor ke dalam memang masih jauh sekitar dua kilometer. Bila anda naik motor, maka dengan leluasa akan melihat keindahan di sepanjang jalan, melewati dua buah tanjakan yang terasa curam. Di tanjakan ke dua inilah tempat Saya dan anak istri bernaung beberapa tahun lamanya. Rumah dengan kiri kanan kesunyian. Sebelah kanan hamparan sawah dari lapangan golf Emeralda yang belum digunakan oleh perusahaan, sehingga digarap oleh penduduk sekitar. Lengkap dengan jurang terjal dan empang yang bila dilihat seksama lebih menyerupai telaga, apalagi bila malam, tampak hitam pekat.
Di sisi depan dan kiri tempat kami terdapat sebuah tanah kosong. persis di kiri penuh belukar yang semula digunakan sebagai lapangan bulu tangkis yang akhirnya dibiarkan mati begitu saja menjadi rimbunan rumput ilalang. Bila malam hari anda melewati jalanan di depan rumah kami, pasti akan tergerak untuk melihat kesunyian yang mendirikan bulu roma, yang hanya terdengar desau angin dan gesekan rumput ilalang.
Tepat di rumah kami ini, jangan harap anda mendapatkan penerangan jalan dari rumah kami. Meskipun ada beberapa stop kontak dan bekas lampu penerang di depan rumah, tapi tidak pernah lagi kami nyalakan. Mungkin orang akan berpendapat betapa pelitnya kami sampai lampu jalan atau minimal lampu depan rumah saja tidak dinyalakan. Itu mungkin pendapat orang yang baru lewat. Mungkin. Tapi bagi penduduk sekitar kampung kami tentunya tidak asing lagi dengan hal gelapnya depan rumah kami. Sengaja kami tidak menyalakan lampu depan rumah karena kami sudah merasa bosan untuk menyalakannya. Kenapa Bosan? Kelak anda akan mengetahui dengan sendirinya nanti.
Rumah ini kami tinggali sejak beberapa tahun yang lalu. Saya bangga menempati rumah dengan desain yang artistik dan terletak di tanah yang cukup tinggi dibanding tanah sekitar, sehingga jika dilihat dari bawah tanjakan, akan nampak seperti villa di atas bukit.
Rumah ini kami beli dari seorang pensiunan kolonel tentara yang pindah karena sesuatu hal. Hari pertama kami menempati rumah ini, seperti lazimnya orang pindahan kami melakukan selamatan dengan mengundang beberapa tetangga. Malamnya kami lewatkan dengan tidur yang pulas karena suasana sekitar rumah memang asri dengan hawa dingin menyejukkan dibawa oleh angin dari padang golf.
Beberapa hari lamanya tinggal di sini tak ada kejadian yang sayah, sampai pada suatu pagi saya mendapati rokok filter yang baru saja saya beli, hilang secara misterius. Sebungkus rokok itu baru saya hisap satu batang, lainnya masih utuh. Itulah awal mula kesayahan yang kami dapatkan. Kalau hilangnya bukan didepan mata saya sendiri, mungkin saya tidak peduli. Toh hanya sebungkus rokok, apa artinya sebungkus rokok yang hilang. Tapi yang membuat saya penasaran adalah bahwa rokok itu hilang di depan mata saya sendiri, di mana tidak ada seorangpun yang lewat atau pernah bergabung beberapa waktu sebelumnya di sini. Namun sejalan waktu akhirnya saya anggap rokok tersebut hilang begitu saja, dan melupakan kejadian itu. Dua hari kemudian saya dikejutkan dengan kemunculan kembali rokok saya yang hilang tepat di tempat semula. Rokok itu masih utuh, tepat kurang satu batang karena sudah saya hisap sebelumnya. Saya tanya pembantu saya, apakah dia yang sengaja berbuat begitu untuk mengerjai atau menakuti saya, nyatanya bukan dan pembantu ini juga merasa takjub bercampur ketakutan. Lagi-lagi saya anggap bahwa kejadian yang saya alami ini hanyalah kebetulan atau saya yang salah lihat.
Saya punya anak kecil, laki-laki yang berusia 1,5 tahun waktu kami baru menempati rumah ini. Tidak ada lain dan bukan, yang dikerjakan anak saya ini nangis tiap hari. Bagi saya mendengar tangis bayi terus-menerus adalah hal yang biasa. Tapi kalau tangis itu berkepanjangan dan tak henti-hentinya, tentulah jadi masalah juga bagi kami.
Kami sengaja memberikan pengasuh khusus pada bayi kami ini, seorang ibu paruh baya yang cukup rajin dalam mengerjakan sesuatu. Ibu ini sangat tanggap pada apa yang harus dia kerjakan tanpa kami menyuruhnya. Dia mulai bekerja setelah pembantu yang pertama pulang tanpa sebab musabab yang jelas. Kehadiran ibu ini ditengah-tengah kami adalah hal yang istimewa, di mana kami menganggap dia sebagai ibu kami sendiri. Di saat-saat kami mulai dicekam rasa penasaran dan ketakutan dengan kejadian demi kejadian sayah, keberadaan seseorang yang lebih tua dari usia kami adalah anugerah, minimal kami merasa nyaman, terutama dari hal-hal yang sayah. Sikecil pun mulai berkurang tangisannya. Kami lalui hari-hari dengan tenang dan menyenangkan sampai pada suatu saat kami kedatangan orang tua kami.
Tanpa kami sangka-sangka, si ibu pengasuh bayi ini secara tiba-tiba mengajukan berhenti dari pekerjaannya dengan mendadak. Tidak ada rayuan atau apapun yang dapat mencegah keinginannya untuk berhenti dari kerja di rumah ini. Kamipun tidak dapat berbuat apa-apa selain dari mengikhlaskan kepergian pembantu kami yang bijak ini, walaupun dengan kecamuk pertanyaan yang tidak terpecahkan saat itu. Baru bertahun-tahun kemudian pertanyaan itu terjawab kenapa si ibu pembantu ini minta berhenti mendadak. Ternyata kami telah dikelabui oleh kekuatan jahat yang akan kami ceritakan lagi nanti, pada bagian akhir kisah ini.
Akhirnya kami mendapatkan lagi pembantu, yang masih belia, namanya Ratih. Berusia sekitar 18 tahunan. Terlalu muda untuk ukuran pembantu yang diharapkan dapat mengerjakan segala sesuatunya. Bila pembantu yang lama kami dapat lebih tenang karena faktor usia yang cukup, tapi dengan pembantu yang baru ini kami tidak begitu mengharapkan perubahan yang berarti. Yang penting istri saya tidak terlalu repot lagi. Walaupun masih muda, lama-lama Ratih dapat menyesuaikan juga dengan keadaan di rumah kami. Tapi itu tidak berlangsung lama. Baru sepuluh hari kerja, Ratih sudah meminta berhenti. “Saya mau berhenti saja Pak, orang tua saya menyuruh saya pulang” Demikian kalimat yang diucapkan Ratih saat meminta ijin berhenti dari kami, dengan sorot mata yang ketakutan. “Bukankah mbak Ratih sudah berjanji akan berkerja di tempat kami minimal 2 bulan biar kami dapat mencari penggantinya dulu..?” kata Saya mengingatkan akan janji Ratih pada saat kami terima kerja dulu. Ratihpun tidak bisa mengelak, dia surut juga. Memang kami dulu membuat kesepakatan dengan Ratih bahwa minimal kerja di rumah kami selama dua bulan, dan jika mau berhenti harus memberi tahu paling tidak satu bulan sebelumnya agar kami dapat mencari penggantinya sesegera mungkin. Hal itu kami lakukan karena belajar dari pengalaman pertama dengan pembantu kami yang dulu. Perihal alasan Ratih untuk pulang kampung pun saya fikir hanya akal-akalan saja.
Kami lega dan menganggap sudah selesai wacana Ratih untuk pulang kampung. Tapi hari-hari berkutnya setelah Ratih meminta berhenti itu jadi terasa kaku, dia lebih banyak diam. Istriku sering ke kamar Ratih untuk sekedar menghibur Ratih agar kerasan. Kamarnyapun kami pasangi tivi sendiri agar betah. Kamar Ratih adalah kamar yang dulu ditempati pembantu kami yang pertama. Letaknya agak jauh dari kamar kami, kamar utama yang ukurannya lebih besar, terletak paling belakang di bagian rumah. Dari kamar kami ini dapat melihat langsung ke pemandangan belakang rumah yang banyak ditumbuhi pohon pisang dan petai cina melalui jendela kamar. Dari slot jendela yang sudah berkarat, pertanda bahwa jendela ini sangat jarang dibuka. Baru setelah kami tempati, jendela ini difungsikan lagi.
Hari itu hari minggu, hari libur untuk Saya setelah seminggu bekerja. Saya bolak-balik dari rumah ke tempat kerja di Bogor. Kebetulan supersibuk sehingga hari liburpun kadang-kadang tidak lagi menjadi hari libur. Saya tetap harus mengerjakan tugas-tugas di luar rumah. Karena hari minggu ini tidak ada tugas yang mengharuskan saya keluar rumah, saya bersama istri dan anak Saya yang saat ini sudah berusia 2 tahun menyempatkan jalan-jalan ke Mall sambil menikmati kebersamaan. Memang kami jarang mendapatkan suasana begini. Petangnya, kami kembali ke rumah. Sampai di rumah pas magrib. Keadaan rumah sepi, lampu-lampu dalam rumah sudah menyala terang.
“Ratih..” “Ratih..!” Teriak istri saya memanggil Ratih, kalau-kalau ketiduran. tidak ada sahutan dari dalam rumah. Saya pun gedor-gedor rumah, tetap tidak ada reaksi, padahal biasanya tidak begini. Biasanya Ratih akan langsung membukakan pintu saat kami baru nyampai di rumah. Lama pintu tidak dibukakan, juga tidak ada tanda-tanda kalau Ratih masih melek. Mungkin Ratih memang tertidur di kamarnya. Tapi kamarnya kan dekat dari ruang tamu, bahkan terletak persis garis lurus dari pintu utama, jadi mustahil jika dengan panggilan segitu kerasnya Ratih tetap tidak bangun-bangun juga. Saya ngecek pintu, ternyata tidak dikunci, hanya ditutup dengan pengait slot yang sebenarnya bisa dibuka dari luar, dengan cara menariknya dari lubang jendela samping pintu. Saya menjulurkan lengan dan berusaha meraih slot yang menahan pintu untuk agar dapat dibuka. Alhamdulillah. Pintu dapat terbuka dengan sendirinya. Kamipun masuk dengan menahan gondok dan kesal.



BAGIAN DUA
Kami memasuki rumah. Kamar Ratih kelihatan gelap, lampunya tidak dinyalakan. Saya melihat sosok tubuh Ratih yang diam kaku, sama sekali tidak terusik dengan kehadiran kami. “Sakitkah dia?” fikir saya. Tetap dengan keadaannya yang diam kaku, pintu yang sedikit menganga kami buka lebar. Istriku bertanya “Kenapa kamu diam saja? Dari tadi kami panggil-panggil, kamu kenapa diam saja?” Tidak ada respon, Ratih tetap diam dengan sebagian rambut panjangnya menutupi muka. Muka Ratih nyaris tidak kelihatan, hanya dagunya saja yang kelihatan sangat pucat. Dia bangkit dan terduduk dengan memeluk sebelah kakinya di atas ranjang. Anak bayiku menangis tiba-tiba. Mungkin karena kesal merasa dicueki, istriku berteriak. “Kamu kenapa diam saja? Apa yang kamu lakukan?!”
Ratih diam saja, namun tiba-tiba dia menangis dengan suara lantang, lebih menyerupai jeritan. Huah……….ckhdggrkhhh….!! Saya tidak mau tahu urusanmu…! Saya mau bebas..!” Suara itu terdengar sangat keras melengking, memecah kesunyian petang.
“Saya tidak peduli…..!” “Hi hi hi hi hi hi hi…. Hi hi hi hi….” Suara lantang itu berubah menjadi suara tawa. Ya, suara tertawa yang sangat mengerikan. Bulu kuduk saya langsung berdiri, merinding! Istri saya diam saja, mungkin schok dengan jawaban yang baru saja ia terima. Tapi saya mengkap hal yang sayah. Dari pertama kedatangan kami, dan apalagi dengan suara tangis yang tiba-tiba berubah menjadi suara tertawa melengking yang menakutkan. Saya tarik tubuh istri untuk menjauhi tubuh Ratih. Suara tertawa masih melengking-lengking, berpadu dengan tangis anak saya yang makin keras. “Ma, tunggu di sini sebentar. Saya keluar” kata saya, lengsung berlari menuruni tanjakan.
Saya langsung menuju ke tempat pemancingan, di sana ada satu ruangan yang memang digunakan sebagai tempat istirahat pegawai pemancingan sekaligus tempat biasa saya nongkrong. Ada 6 orang bergerombol membentuk lingkaran, mereka sedang main domino. Kaget melihat kedatangan saya yang mendadak. “Ada apa ya Pak?” Tanya Pak Narto yang lagi main domino. Pak Narto ini sehari-hari sebagai pegawai pemancingan yang cukup akrab dengan saya, karena sebelum kami menempati rumah ini pun saya sudah mengenalnya. Setelah saya jelaskan hal kejadian yang baru saja kami alami, semua orang yang ada di pemancingan langsung berlari menghambur ke rumah saya, istri saya masih ketakutan tapi berusaha menenangkan diri, memeluk si kecil. Orang-orang tercekat melihat pemandangan dihadapannya. Ratih dengan rambut yang masih riap-riapan menutupi mukanya, berputar-putar di atas ranjang, tidak menempel kasur! Ya, Ratih melayang-layang dengan suara tangis dan tawa yang bergantian, memekakkan telinga. Salah satu orang dari kelima rombongan langsung inisiatif memanggil orang pintar, agak jauh dari rumah.
Sementara kami tercengang dengan kejadian terbangnya Ratih, tanpa fikir panjang Saya dengan Pak Narto dan Mul memegang tubuh Ratih dan menempelkannya ke ranjang. Saya membaca doa-doa dengan suara keras, dan Ratih kelihatan agak melunak. Dua orang memegangi kaki Ratih. “Saya tidak mau anak ini tinggal di sinii!!” teriakan panjang kembali terucap dari bibir Ratih. Saya yakin itu bukan suara Ratih yang biasanya. “Siapa kamu?” saya berteriak tak kalah kencang. “Saya Kuntilanak..!!!” teriak bibir Ratih yang sudah berubah putih pucat, saya tercengang, bergidik. Kaki dan tangan terasa dingin banget. Saya lepasin pegangan pada tubuh Ratih, sambil membaca ayat Al Fatihah! Dengan nanar Ratih memandang kearah saya dan berucap. “Ha ha ha aha ha… baca aja terus..!” Saya terdiam. Istri Saya sudah mulai tenang, mungkin sudah menyadari apa yang sudah terjadi dihadapannya. Dia membaca Ayat Kursi, orang-orang ikut membaca Ayat Kursi, tapi Ratih semakin lantang tertawa. “Jangan baca Ayat Kursi, baca surat Yasin!” Istrikupun langsung membaca Surat Yasin, namun belum selesai istri saya membaca Surat Yasin, si Ratih sudah berubah kembali menjadi Kuntilanak dan berteriak “jangan begitu bacanya.. kamu Salah!! Ambil Alqur’an, bacakan Yasin secara benar..!”
Bersamaan dengan itu paranormal atau orang pintar yang dipanggil Mul datang. Paranormal langsung melakukan sholat di ruang tamu, dan istri saya mengambil Alqur’an. Membacanya dengan terburu-buru karena mulut Ratih tetap meracau tidak karuan….




BAGIAN TIGA
Paranormal melakukan sholat berulang-ulang hingga akhirnya Ratih bisa kembali sadar. Malam itu kami tidak berani tidur, sepanjang malam saya jagain pintu kamar karena istri saya ketakutan.
Paginya mbah Gimar, nama paranormal itu, datang dan menjelaskan pada kami bahwa si Ratih harus dipulangkan hari itu juga karena ternyata Ratih termasuk gadis Bau Lawean, konon gadis Bau Lawean akan selalu dirasuki setan atau arwah penasaran, terutama jika tinggal di tempat angker.
Sebenarnya saya dan istri sudah tidak kuat berlama-lama tinggal di rumah ini, apalagi kondisi si kecil yang selalu nangis terus tanpa sebab yang jelas. Tapi apa mau dikata, saya bukan orang kaya yang bisa pindah-pindah rumah kapanpun dia mau. Kami tetap bertahan. Kejadian demi kejadian kecil terus kami alami, termasuk sumur pompa yang selalu mati. Sudah berpuluh kali didatangkan ahli sumur tetap saja begitu dan hanya bisa mengalir normal setelah kami sediakan sajen bubur merah bubur putih atas saran sesorang yang kami anggap “mengerti”.
Hari berganti hari, kami seolah melupakan kengerian yang sering kami alami. karena saking terbiasanya kami menjadi kebal akan gangguan “mereka” dan sadar bahwa memang ada hantu di rumah kami. kami tidak heran bila anda main ke rumah kami, meskipun siang hari, tiba-tiba lari terbirit-birit karena melihat “sesuatu”. kebanyakan sih bentuk kuntilanak dan pocong yang selalu berdiri di atas tangga untuk ke lantai atas.
Pernah suatu ketika saya menonton siaran TV di malam hari, padahal kondisi sedang mengantuk tapi saya tidak mau tidur karena takut mimpi buruk. Memang posisi TV di ruang tengah, sedangkan anak istri tidur di kamar, jadi saya seorang diri menonton tivi. Mungkin saking lelahnya saya tertidur dan tidak ingat apa-apa, tahu-tahu terbangun dan di hadapan saya sudah berdiri pucat, sosok pocong yang tergantung di bawah tangga, persis di depan saya nonton TV.
Pada bulan ke sebelas kami menempati rumah ini, tepatnya seminggu pada bulan Ramadhan, saya browsing di depan monitor sambil menunggu waktu Sahur tiba. seperti ada kekuatan yang menarik leher saya untuk membalikkan tubuh menengok ke belakang. Saya terperanjat, hampir tidak percaya dengan yang saya lihat: keramik di depan kamar saya bergerak-gerak membentuk gelombang, seolah ada sesuatu yang hendak keluar dari bawah lantai keramik. Dengan memberanikan diri, saya datangi keramik yang masih bergerak-gerak itu lalu saya tepuk dengan telapak tangan dan terhenti.
Siangnya saya cerita ke tetangga dan atas saran tetangga didatangkanlah seorang juru kematian yang biasa dipanggil pak Modin/pak Lebai. Pak Modin sholat di dekat lantai keramik yang semalam bergerak-gerak sendiri. Dengan khusyuk pak Modin duduk bersila seolah menerawang sesuatu. Terkuaklah suatu rahasia yang mungkin selama ini ditutup rapat oleh penjual tanah tempat rumah ini berdiri, bahwa dibawah rumah ini adalah kuburan. Ada tiga mayat yang dikubur di sini, tepatnya di depan kamar utama (kamar saya dan istri). Akhirnya hari itu juga keramik digali dan ternyata memang masih ada jenasah-jenasah hancur yang sudah menjadi tanah dan kami pindahkan ke pemakaman umum kampung, persis selayaknya menguburkan jenasah. Diakhir kisah ini nanti, terkuak lagi kebenaran cerita bahwa ternyata tidak hanya 3 jenasah yang dikubur di tanah sebelum dibangunnya rumah ini, melainkan ada 13 (tigabelas) jenasah.
Mungkin anda bertanya-tanya, kenapa dulunya sudah tahu ada kuburannya kok dibikin rumah. Yup. Ternyata orang yang membangun rumah ini, yaitu pemilik pertama, tidak dikasih tahu penjual tanah bahwa tanah tersebut bekas kuburan. akibatnya kuburan-kuburan itu jadi terpendam tepat di bawah pondasi rumah, dalam kamar dan di depan kamar.
Jika Anda mendengar cerita ada tukang ojek yang membawa penumpang lalu penumpang itu turun di depan rumah kami, jangan heran karena karena seringkali itu adalah arwah penasaran yang berulangkali mengerjai para pengojek. Bahkan ada yang sampai pingsan di pinggir jalan. Sebenarnya jauh sebelum banyak kejadian sayah, banyak tukang ojek yang memberitahu bahwa rumah yang saya tempati berhantu, tapi waktu itu saya tidak percaya.
Hanya di rumah ini pula saya bisa ditemui menjadi dua orang , padahal saya tidak punya saudara kembar. Nanti ya, saya ceritakan lagi disambungan kisah ini. Saya sudah mengantuk dan persiapan tidur dulu karena sudah lumayan ngantuk.
 




BAGIAN EMPAT
Proses pemindahan jasad-jasad yang sudah menjadi tanah itu dilakukan oleh beberapa orang, hadir pula pak RT yang akhirnya mengiyakan dan tak bisa lagi menutupi misteri sebenarnya akan rumah berhantu ini. Selesai pemindahan kuburan malamnya kami melakukan tahlilan dengan mengundang hampir seluruh warga di lingkungan RT. Tahlil dilakukan selama tiga malam, lega sudah hati saya, seolah lepas dari batubesar yang menghimpit dada. Saya berharap bahwa teror-teror hantu yang melingkari kami selama ini akan berhenti setelah kami perlakukan mereka seperti saudara kami sendiri dengan prosesi selayaknya pemindahan kuburan. Selama beberapa waktu lamanya tak lagi terjadi hal-hal di luar nalar.
Mertua saya sengaja datang dari Jawa Timur untuk menemani kami. Saya berfikir bahwa keadaan sudah kondusif dan terlepas dari pengaruh setan, tapi hari kelima mertua bersama kami, tiba-tiba ibu separuh baya pengasuh bayi kami memohon untuk berhenti dari kerja. Serasa sesak dada saya saat si ibu paruh baya mengutarakan niatnya. Saya diam saja, dan melihat wajah si Ibu, nampak pucat dengan mata sembab seperti habis menangis. “Ibu habis menangis?” tanya saya penasaran. “T..tidak pak, saya memang sudah tidak betah” si ibu sesenggukan. “Saya tidak enak sama mertua Bapak” kata ibu paruh baya.
Akhirnya kami pun merelakan si ibu paruh baya itu berhenti kerja. Otomatis si kecil lebih sering bersama dengan ibu mertuaku, karena istri saya siangnya harus kuliah di Depok. Memang istri saya masih usia 21 tahun ketika itu. Saya tidak terlalu mempersoalkan dengan berhentinya ibu paruh baya, namun yang menjadi masalah adalah ibu mertua saya tidak bisa lama-lama menemani kami, hanya satu bulan saja beliau pulang. Mau tidak mau saya kelimpungan. Saya datangi lagi ibu paruh baya untuk bekerja di rumah kami kembali, tapi menolak secara halus. Saya desak tetap tidak mau, si ibu malah cerita bahwa sebenarnya ia berhenti karena pernah dipelototi oleh ibu mertua saya, dan diusir mentah-mentah, kejadiannya di dalam kamar. Saya telepon mertua saya, beliau bersumpah atas nama Tuhan bahwa tak pernah satu kalipun ke kamar ibu itu, apalagi sambil memelotot. Saya merasa tidak enak, mulai terasa ada keganjilan. Merinding. Tapi saya pendam begitu saja karena takut istri saya panik.
Beberapa hari kemudian kami mendapatkan pembantu baru, namun dia tidak bisa nginap di rumah kami. Pembantu baru kami ini bernama Romlah, asli Sunda. Dia memiliki seorang anak usia 5 tahun tapi sanggup bersih-bersih rumah seadanya dan tugas utama mengasuh anak kami. Daripada kosong tanpa pembantu, kami terima saja. Pada hari kedua dia bekerja, si anak ikut dibawa karena neneknya lagi ada keperluan. Jam 8 pagi Romlah datang bersama anaknya yang masih kecil itu, Romlah langsung bersih-bersih rumah sedangkan si anak bermain sendiri di bawah tangga. Belum ada setengah jam Romlah bekerja, anaknya menjerit dan memaksa untuk pulang, “Pak, saya pulang dulu, nanti saya datang lagi” Pamit Romlah. Saya hanya mengiyakan, tidak bisa memaksa mereka untuk tetap tinggal. Lama Romlah pergi mengantar anak, ditunggu-tunggu tidak datang juga. Ketika saya bersama istri menjemput ke rumahnya, Romlah meminta untuk berhentii bekerja, lebih tepatnya membatalkan kerja pada kami. Apa yang telah terjadi? Setelah saya desak, Romlah mengaku bahwa anaknya tadi cerita, melihat pocong yang loncat-loncat di atas tangga rumah saya. Kondisi anak Romlah bahkan masih panas.
Hari-hari selanjutnya kami lalui hanya bertiga, yaitu saya, istri dan anak kesayangan kami, Pijar. Kami menjalani hari-hari seperti biasa, berusaha melupakan segala yang terjadi biarpun pada kenyataannya tetap saja tegang. Hampir tiap malam bulu kuduk kami meremang, ditambah hawa lembab yang dibawa oleh angin padang golf semakin membuat kami larut dalam ketakutan. Tapi sekali lagi, saya harus dapat menguatkan diri, apalagi di depan istri saya. Karena kalau saya udah menunjukkan rasa takut saya, istri saya tentu lebih takut lagi dan merasa tidak ada yang melindungi.
Apabila petang menjelang, pasti akan terdengar suara orang mengaji dari MP3 yang sengaja saya setel agak kencang. Lumayan, sedikit menurunkan tensi ketegangan kami. Dari teman-teman di kantor tempat saya bekerja, sebuah institusi negeri, didatangkan 3 orang paranormal. Tapi tetap tidak ada perubahan yang berarti. Suatu hari, anak kami mengalami panas demam. Obat dari dokter sudah diminumkan, tapi suhu badan tetap naik turun tidak stabil. Saya pusing. Hari itu kami bergantian mengompres si kecil dengan air hangat, menjaga agar tidak sampai terjadi step. Kami bikin semacam jadual piket. Satu jam saya yang ngompres, satu jam lagi gantian istri saya, begitu seterusnya. Sampailah pada saat saya dibangunkan paksa oleh istri, padahal masih jam saya tidur.
“Pa, suhu badan Pijar tinggi lagi.. aku takut..” kata istri saya.
“Ya sudah, kita melek berdua saja” tukas saya sambil melihat sekeliling.
Kamar utama kami letaknya paling belakang, bersebelahan dengan sumur yang sudah lama tidak dipakai. Tepat di samping kamar, terdapat jendela nako yang mengarah ke lapangan golf. dari jendela ini kami dapat melihat pemandangan di belakang rumah. Saya memandang sekeliling, perasaan saya tidak enak banged.
“Bentar ya ma..” kata saya lalu keluar kamar dan menuju jendela, mengecek keadaan sekeliling. Saya terperanjat. Ada sesuatu, tampak jelas bayangan di depan saya, tepat disamping jendela. Saya serasa mimpi. Seseorang tampak duduk membelakangi saya, dengan rambut panjang sepunggung dan pakaian yang juga panjang. Hawa dingin yang menusuk membuat saya bergidik tapi Saya coba menenangkan diri.
“Maaf, ibu siapa?” keluar juga suara dari mulut saya.
“Ibu siapa?” tidak ada jawaban. Sosok itu menggerakkan kepala tapi tetap membelakangi Saya, terdengar lirih “Saya suka dengan anakmu”.
“Tolong ibu pergi dari sini, jangan ganggu anak saya.” Namun si ibu misterius itu tetap diam tak bereaksi. Menyadari kalau anak saya dalam bahaya, saya mengambil ember berisi air yang kebetulan ada di dekat saya. Dengan menahan keringat dingin dan juga takut, saya siramkan air dalam ember ke sosok itu, sambil terus berdoa sebisa saya. Secara tiba-tiba si ibu berambut panjang itu menghilang. Dengan lunglai Saya kembali masuk kamar. Alhamdulillah suhu badan anak saya sudah normal. Namun sampai pagi kami tidak berani tidur. Saya bersyukur suhu badan sikecil tetap stabil dan langsung sehat.




BAGIAN LIMA
Ketakutan yang menyenangkan dalam hidup adalah manakala kita sudah bisa menikmati rasa takut itu. Menikmati karena keterpaksaan maupun sengaja pasrah pada bahaya sebab memang tidak ada pilihan lain. Meski rasa takut itu sering menyerang sedikit keberanian dalam diri saya, tapi kembali lagi kepasrahan akan situasi yang sangat sulitlah yang membuat bahaya tak lagi terfikirkan. Rumah ini bagaikan penjara yang nyata bagi kami. Adanya 3 kuburan di depan kamar utama kami saja sudah cukup mengintimidasi nyali istri Saya. Tapi toh tetap saya kuatkan dengan segala cerita indah dan kekuasaan Tuhan yang tidak akan mungkin bisa dikalahkan oleh setan. Meski sebenarnya menolak, banyak keganjilan yang sengaja Saya sembunyikan dari istri. Semata demi mempertahankan keberanian diri kami. Meski saya juga harus membohongi diri sendiri.
Ruangan paling aman dalam rumah kami adalah kamar utama. Rasanya begitu jengah bila kami duduk di ruang tamu ataupun ruang tengah, kecuali ketika ada orang lain atau tamu yang kebetulan singgah ke rumah kami. Saat ini, dua kamar dengan ukuran besar-besar praktis kosong. Kamar depan sedianya kami khususkan buat kamar Tamu, dan kamar tengah untuk pembantu, tapi sejak kami tak memiliki pembantu lagi, kamar itu kami biarkan kosong. Sedangkan kamar tamu lebih mirip sebagai gudang dengan berbagai macam barang yang ditaruh di sana. Keduanya sama-sama gelap. Saya malas mencari pembantu lagi, karena malas melihat intrik yang akan terjadi dengan mereka. Praktis dua kamar kosong ini semakin tidak terjamah oleh kami. Dua kamar ini sebenarnya bersebelahan, tapi terpisah oleh kamar mandi. Sebuah kamar mandi yang sayah menurut saya. Karena dalam kurun waktu yang tidak begitu lama, satu tahun semenjak saya rehab keseluruhan rumah, ubinnya sudah ngelotok tanpa sebab apa-apa. dan lebih sayah lagi, ubin yang terbuat dari keramik pucat itu menyembul terangkat. Lambat laun keramik ini terkelupas dengan sendirinya.
Keadaan sudah sangat senyap ketika saya mulai berkemas. Pekerjaan memaksa saya untuk berangkat malam-malam. Saya tengok istri dan anak saya, sudah tertidur hampir dua jam yang lalu. Saya tak tega membangunkan mereka. Saya kaget ketika terdengar suara byuuurr… byurr…. suara air yang jatuh seperti seseorang sedang mandi, berasal dari arah kamar mandi tamu. Saya ke kamar mandi depan, tapi tidak ada siapa-siapa. “Sudah jelas..” batin saya bergumam sendiri. Sebenarnya Saya gondok banget dengan kondisi kamar mandi tamu yang selalu gelap, dan saya bosan mengganti bohlamnya. Tiap minggu maunya diganti terus lampu itu, atau memang tidak mau terang? kutuk saya dalam hati.
Lagi-lagi saya harus melewati kondisi gelap di teras rumah. Seperti halnya kamar mandi, lampu di teras ini juga tak pernah berumur lama. Dia hanya mampu bertahan seminggu atau paling lama dua minggu sampai saya bosan menggantinya terus. Hawa dingin berdesir mengusap leher saya ketika keluarkan motor melewati pagar rumah, sunyi sekali. Lampu teras rumah sudah lama mati membuat gelap yang ada semakin pekat. Diiringi desau angin, saya berangkat.
Saya pacu motor dengan kecepatan yang lumayan tinggi, tapi seolah motor saya terasa berat. Setengah perjalanan menuju Kedunghalang Bogor, melewati lampu merah Pemda Cibinong, jalanan terasa sepi, hanya tampak aspal yang mengkilap bermandi gerimis, dan satu dua angkot yang nampak kelelahan menembus malam, ketika tiba-tiba di depan saya ada seekor kucing besar menyebrang jalan. Saya tak lagi bisa menghindarinya, tak bisa lagi mengendalikan motor saya untuk tidak menggilasnya. “Beerrdddh” terasa sekali tubuh kucing yang besar itu tergilas ban motor saya. Saya langsung injak rem dan CCiiiitt. Saya turun dari motor. Beberapa tukang ojek yang mangkal di seberang menghampiri saya. Saya terus mencari kucing itu, kucing yang saya tabrak barusan. Sayah, kucing itu tidak ada! “Pak, tadi lihatkan kucing besar menyebrang jalan?” tanya saya pada salah satu ojek di dekat saya. “Ya Pak, ada tadi.” jawab tukang ojek. “Terasa banget tadi kena ban motor saya, tapi kok tidak ada bangkainya ya?” tukas saya. Gimana ya Pak? Tanya saya lagi, tapi tukang-tukang ojek itu juga tidak bisa njelasinnya.
Saya melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya membuang uang kertas limaribuan ke tengah jalan, dengan maksud sebagai tolak bala atas kejadian tadi. Baru beberapa saat motor saya bergerak, di depan sebuah mobil carry yang berhenti dengan beberapa penumpang menyetop saya sambil bertanya “Pak tadi nabrak kucing juga?” Saya berhenti. “Kok Bapak tahu?” tanya Saya.
“Iya pak, karena kami juga menabrak kucing besar” Jawab orang itu sambil memperhatikan saya.
“Tadi sudah Saya cari Pak, tapi tidak ada”
“Tidak ada?”
“Ya, sama sekali tidak ada”
“Sayah ya Pak..”
Alhamdulillah sampai di Bogor tidak terjadi apa-apa. Tugas dapat saya kerjakan dengan sedikit perasaan yang tidak enak. Beneran, saya merasa seperti diikuti seseorang, atau mungkin sesuatu. Baru setelah saya ingat-ingat lagi, dalam perjalanan setelah dari lampu merah Pemda, dua kali atau mungkin tiga kali disalip oleh mobil yang sama. Ketika melewati tikungan menuju ke tempat kerja saya, ada seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul, sehingga hampir terkena motor saya. Dan sayahnya, wajah laki-laki itu seperti pernah saya kenal.. tapi entah di mana sekarang. Saya ingat, ya! laki-laki itu mirip dengan orang yang serombongan mobil berhenti dan menanyakan perihal kucing. Bahkan bukan mirip, saya yakin kalo itu orang yang sama. Udahlah, mungkin hanya kebetulan saja. Demikian batin saya menenangkan diri.
Paginya, sebelum subuh saya tinggalkan Kedunghalang untuk pulang ke Cimanggis. Rasanya semalam itu perjalanan yang lama dan melelahkan. Hati-hati saya pacu sepeda motor dengan kecepatan sedang, bahkan cenderung lambat. Terasa berat seolah seribu beban menghimpit di benak saya. Melewati Pom Bensin Kandangroda, saya mampir sebentar bermaksud mengisi bensin. Semalam saya sampai lupa untuk isi bensin gara-gara kucing sialan itu.
“Berapa liter Pak?” Tanya petugas bensin sambil menyorongkan alatnya.
“Penuhin aja deh” jawab saya.
Lalu si petugas pom bensin mengucurkan alatnya, mengisi tangki motor saya sampai penuh. Selesai membayar bensin, motor saya starter dan “Gruennggg… Gruengggghhh” Motor saya gas tapi roda motor saya tetap diam. Terhenti. Saya gas lagi lebih kencang, tidak reaksi apa-apa. Motor Saya tetap diam seolah ada yang mencengkram. Berkali-kali saya geber itu motor, tetap diam. Roda motor seakan terpaku pada lantai Pom Bensin. Beberapa petugas Pom Bensin mencoba mendorong motor saya, hasilnya sama saja.
Satpam yang sedang bertugas mendekat dan ikut mencoba motor saya. Tapi tetap tidak bisa. Saya bingung, mereka lebih bingung lagi. Akhirnya sepeda motor saya titipkan pada Satpam Pom Bensin. Saya minta nomor telepon petugasnya, lalu saya pulang dengan menumpang Metromini arah Kampung Rambutan.
Sesampainya di rumah, istri saya cerita bahwa sepanjang malam, di dalam kamar istri dan anak saya tidak berani keluar kamar. Mereka terbangun ketika lewat tengah malam, anak saya menangis terus seolah-olah melihat sesuatu, sementara dari luar kamar tidur terdengar suara HP mainan anak saya yang berbunyi terus, tang teng tong tang teng tong… tidak ada habis-habisnya. Dan suara HP mainan itu berhenti setelah menjelang pagi.
Beberapa hari kemudian saya ceritakan kejadian itu pada seorang Ustad yang kebetulan mengerti dan bisa berkomunikasi dengan alam Gaib, dari ketika saya menabrak kucing besar sampai motor saya yang ngadat secara tiba-tiba tanpa sebab. “Itu bukan kucing yang kamu tabrak!” Kata Pak Ustad
“Hah?” Suara Saya
“Semua saling berkaitan, mereka tinggal di rumahmu Juga.”
BAGIAN ENAM
Saya tidak mengerti dengan semua yang saya alami ini. Apa kesalahan saya dan keluarga saya sampai-sampai harus terjebak dalam kemelut yang tak ada ujung dan pangkalnya, terjebak di rumah hantu. Kata-kata dari pak Ustad beberapa waktu yang lalu membuat saya bergidik. Sebegitu parahkah rumah ini, sampai-sampai penghuni gaibnya ikut campur dalam urusan saya di luar rumah. Pantas saja orang-orang sebelum saya tidak bertahan lama tinggal di sini, paling lama dari mereka hanya satu setengah tahun. Saya harus menyalahkan siapa? Penjual rumah yang telah saya beli? Menurut saya dia tidak bersalah karena dia juga merupakan korban dari ketidaktahuan. Kondisinya ketika meninggalkan rumah ini juga sudah cukup menggambarkan betapa menderitanya selama hidup dan tinggal di rumah ini, meski ditutup-tutupi. Dan saya memang minat dengan rumah ini. Jujur saja, saya sangat suka dengan model rumah ini. Suka dengan bentuknya, suka dengan keasrian dan lingkungan pemandangan alamnya.
Memang pertama kali saya datang bersama perantara yang menawarkan rumah ini, saat melihat keadaan rumah waktu itu ketika malam, saya sempat merinding, entah oleh sebab apa. Tapi saya buang jauh-jauh perasaan itu.
Akhirnya rumah ini saya beli dengan harga yang sangat murah bila dibanding dengan apa yang saya dapatkan. Harusnya ini jadi lampu merah atau tanda tanya buat saya untuk tidak melanjutkan pembelian, setidaknya curiga. Karena rasanya tidak wajar. Selain mendapatkan rumah ini, saya juga mendapatkan seluruh isinya. Si pemilik pergi hanya dengan membawa pakaiannya saja. Seandainya saya tidak membawa barang apapun dari tempat tinggal saya yang lama, peninggalan dari si penjual rumah ini saja sudah sangat cukup untuk memenuhi sekedar keperluan rumah tangga kecil. Televisi, Kulkas, 3 set tempat tidur lengkap dengan bantal-bantalnya, 2 Lemari, 3 set meja kayu jati antik, dan lain-lain. Saya tidak sempat berfikir bahwa barang-barang ini juga telah menjadi media bagi para setan dalam melaksanakan pestanya di kegelapan sepanjang malam, di kelak kemudian hari.
Ada yang saya suka dari barang-barang itu, terutama satu set meja di ruang tamu. Memiliki bentuk yang dapat menarik orang yang melihatnya. Dia seakan mengandung magnet magnet untuk seseorang memilikinya. Bentuknya antik, mirip dengan kursi-kursi tua pada bangsawan-bangsawan kuno, dengan ornamen ukiran pada lengan dan badan kursi itu. Di kursi inilah kemudian sering terlihat seorang nenek kebaya merah dan sanggul besar di kepalanya, sedang duduk termangu seolah ada seseorang yang ia tunggu.
Semilir angin dari arah lapangan Golf Emeralda menyejukkan membawa nyanyian alam. Derunya terasa dingin lembab menyentuh kulit tubuh saya. Sangat melenakan, membuat lamunan terasa nikmat di siang itu. Fragmen-fragmen dari perjalanan saya ke sini, silih berganti berebut tempat di kepala saya, membuat sulit untuk saya pejamkan mata dan tertidur biarpun hanya sekejap. Galau saya semakin bertumpuk dengan bertubinya masalah demi masalah yang saya hadapi. Entah ada hubungannya dengan rumah ini atau hanya kebetulan saja, yang jelas saya merasakan kemunduran semenjak saya tinggal di rumah ini. Saya tidak bisa menyalahkan orang yang menjual rumah pada saya, karena dia memang bertindak demi keselamatannya sendiri, dan tentunya wajar bila dia menutupi semuanya. Kembali fikiran saya melayang ke mana-mana, sebelum akhirnya saya mencium bau wangi yang menyergap kesadaran saya. Rasa kantuk yang muncul secara tiba-tiba, telah membuat lunglai persendian saya.
Saya paksakan menuju kamar, lalu saya baringkan tubuh di kasur, istirahat. Seketika kelambu tempat tidur saya berubah menjadi putih dan bergerak-gerak lalu menutup dengan sendirinya. Nampak sebuah wajah cantik putih dengan rambut panjang putih berkilauan. Lengannya terbuka di antara kain berwarna perak ditubuhnya. Dia mendekatkan telapak tangannya dan meraih bahu saya. Terlihat ikat kepala di atas keningnya, lebih mirip mahkota berwarna perak. kuku-kukunya panjang dan juga berwarna putih perak menyentuh kulit saya. Saya seakan terlena dan terbuai, atau memang saya sudah dalam pengaruh rasa kantuk yang berlebihan. Perempuan di depan saya mendekap lalu menindih tubuh saya, tapi kemudian kesadaran saya kembali pulih. Entah dari mana tiba-tiba muncul kekuatan yang mengarahkan saya untuk mendorong tubuh perempuan itu menjauh dari saya, wajah perempuan itu berubah marah dan lalu seolah wajah itu tersayat dari dalam dagingnya dan nampak kulit wajahnya retak-retak oleh semacam luka. Dari luka-lukanya mengeluarkan darah yang membasahi hampir seluruh wajahnya. Saya pejamkan mata dan berharap untuk segera sadar bila ini hanya mimpi. Tapi tetap tidak bisa, pemandangan itu tetap terpampang di depan Saya, bahkan leher ini seperti kaku tidak bisa bergerak. Saya teriak-teriak dengan melafalkan ayat-ayat suci yang biasa saya bacakan ketika saya dalam rasa takut, suara saya tak bisa keluar, tertahan.
Saya baca berulang-ulang ayat-ayat itu sampai akhirnya kelambu di tempat tidur saya kembali berwarna biru muda dengan posisi yang membuka seperti awal saya merebahkan diri. Masih tercium bau wangi, dan amis. Wangi yang menyengat seperti bau bunga kematian. Saya ingat pernah mencium bau seperti ini dulu di kampung, ketika ada tetangga saya yang meninggal, biasanya dipakaikan bunga-bunga yang bercampur-campur hingga tidak jelas lagi bau wanginya. Saya gosok-gosok mata Saya, dan berharap kalau yang terjadi tadi hanya mimpi. Ya, hanya mimpi.
Benarkah hanya mimpi? Bau bunga dan amis masih sangat menyengat menusuk hidung Saya. Saya lihat jam di HP, baru 3 sore. Saya sapu pandangan ke sekeliling, tidak ada sesuatu yang mencurigakan selain dari bau bunga yang tetap menyebar di ruang tidur. Saya keluar kamar, lalu menyusul istri dan anak Saya yang main ke tetangga sejak siang tadi. Kengerian tadi tidak saya ceritakan pada istri saya, karena saya tidak ingin istri ketakutan. Menjelang magrib saya putar MP3 orang mengaji dari komputer, suaranya mengalun dan memupuk kembali keberanian saya.
Pagi buta saya sudah berkemas untuk berangkat kerja ke Bogor, semua sudah rapi kecuali HP saya. HP yang semula saya taruh di atas meja tidak satupun yang kelihatan. “Ma, lihat HP saya tidak?” tanya saya pada istri, “tidak tahu Pa” jawabnya. Saya desak istri saya sampai-sampai dia sumpah bahwa dia tidak tahu dimana dua HP saya berada. Kami mencarinya keseluruh ruangan dan HP itu tetap tidak ada. Dengan menggunakan HP istri, saya coba miscall nomor HP saya. Masih ada nada sambung. Saya berfikir bahwa HP itu mungkin dicuri orang, Saya cek lagi ke seluruh ruangan. Tidak mungkin dicuri orang. Semua engsel tidak ada yang rusak dan semua pintu dari semalam terkunci rapat. Saya coba lagi telepon, tetap tidak diangkat meski ada nada sambung. Akhirnya saya anggap kedua HP itu sudah hilang. HP Nokia ketupat yang waktu itu masih baru-barunya keluar, dan Sony Ericsson K750i (sampai saat tulisan ini diketik, HP-HP itu tetap tak ditemukan). Ketika besoknya saya coba telpon lagi, diangkat tapi hanya suara gemuruh dan perempuan cekikikan.
Jam 6.30 wib motor saya sudah merayap di pelataran kantor tempat saya kerja. Setelah memarkir motor, saya buka kancing Jaket kulit dan bersiap menuju ruangan saya, tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan teman kerja Saya. “Bang, awas Ular!!” begitu teman Saya dengan suara tinggi. “Mana?” tanya Saya sambil mata Saya memandang ke sekeliling berusaha mencari ular yang dimaksud.
“Tenang.. tenang Bang… tenang. Diam saja di situ.” sambungnya.
“Kok?” Saya bingung.
“Itu Ularnya di jaket Abang”
“Masya Allah… Kok bisa sih?”
Lalu dengan bantuan teman saya, saya copot jaket kulit saya. Rupanya ada Ular belang yang ada di dalam jaket saya, dan hanya kepalanya saja yang nongol kelihatan dari luar jaket, sementara badan ular itu masih berada di dalam jaket saya. Sungguh sayah. Tapi, ini benar-benar terjadi. Entah sejak kapan ular itu berada di dalam jaket saya.
Saya menghabiskan kerja di hari itu dengan perasaan yang tidak karuan. Teman saya yang lain bilang, bahwa dia memiliki teman yang ahli dalam mengusir gangguan di dalam rumah yang angker atau berhantu. Konon, temannya ini sudah biasa dipanggil oleh para pejabat untuk urusan supernatural. Saya pun setuju untuk dinetralisir rumah saya, siapa tahu memang paranormal ini benar bisa, dan rumah saya bisa dibebaskan dari hantu.
Sore harinya, rombongan paranormal datang. Mereka meminta disediakan garam kasar untuk sarana mereka mengusir hantu. Orangnya masih cukup enerjik dan muda-muda, mungkin sekitar 36 tahunan. Seorang diantara mereka yang paling tinggi tubuhnya menyebar garam ke seluruh ruangan. “Bapak, ibu.. rumah ini merupakan pusat atau tempat bermain dan pertemuan dari hantu-hantu di sekitar daerah sini. Tadi sudah kami usir dan kami pagari rumah ini, mudah-mudahan sudah tidak berani ke sini lagi.” Kata paranormal itu setelah selesai menjalankan ritualnya.
“Mereka bisa diusir Pak?”
“ya, mudah-mudahan Pak.” jawab sang paranormal.
Mereka pun pulang sebelum magrib.
Malam harinya, anak saya menangis terus.
Bergantian saya dan istri saya menggendong si kecil, tapi tetap saja anak kami terus menangis sambil menunjuk-nunjuk ke sudut ruang belakang. Ia terus menangis. saya memandang ke sudut ruang belakang, berharap melihat keganjilan ataupun penampakan setan yang telah membuat anak saya menangis. Tapi hanya gelap, pekat. Tidak ada apa-apa di sana. Kemudian, dengan mengasumsikan bahwa di depan saya terdapat sesuatu makhluk ataupun hantu yang tidak bisa saya lihat, saya keluarkan kalimat-kalimat seperti seseorang yang sedang berbicara dengan orang lain, ini sering saya lakukan dan biasanya anak saya kembali tenang.
“Tolong jangan ganggu anak saya ”
“Tolong pergi dari sini”
Tetap tidak ada reaksi apa-apa. Anak saya masih menangis.
Istri saya yang menggendong si kecil nampak kelelahan. Lalu istri saya secara spontan membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Si kecil terdiam, berhenti menangis. Entah berhenti menangis karena sudah capek atau memang sang pengganggu sudah pergi. Kami pun lega. Saya ajak istri saya masuk kamar utama untuk ketenangan. Tapi baru saja kami buka pintu, terdengar air mengalir dari kran kamar mandi tamu di arah depan. Istri saya ketakutan. Beberapa saat setelah itu lampu ruang tengah dan ruang tamu tiba-tiba padam.
Kami tetap masuk ke dalam kamar. “Tenang aja Ma, tidak usah takut.” Saya coba menenangkan istri saya walaupun sebenarnya saya sendiri juga takut. Takut kalau hantu-hantu itu marah dan sengaja membuat ulah karena kedatangan tiga paranormal tadi sore.
Hingga hampir tengah malam saya tidak tidur. Suara air mengalir dari kran masih terdengar, suara yang tidak seberapa keras tapi seakan memekakan telinga saya. Jarak antara kamar mandi tamu dengan kamar utama kami sekitar sepuluh meter tapi suara aliran kran sungguh sangat mengganggu. Air itu akan terus mengalir sebelum tabung penampungan air di atas habis. “Ini tak bisa dibiarkan” gerutu saya dalam hati, kesal. Lalu saya bangkit dan bermaksud mematikan kran di depan, melewati gelap ruang tengah. Saya coba tekan stop kontak untuk menyalakan lampu, tapi lampu tetap padam dan tidak mau nyala. “Berarti cuma kebetulan lampu ini konslet…” bisik saya dalam hati. Lalu saya menuju kamar mandi dan mematikan kran itu. Sepanjang saya melewati ruang depan dan ruang tengah, bulu kuduk saya merinding dan setiap gerakan saya seolah ada yang memperhatikan saya. Terdengar suara berderap gaduh, seperti suara ramai bocah-bocah yang sedang kejar-kejaran, berlarian menjauhi ruang tamu. Di luar terdengar anjing melolong dengan suara yang nyaring, membuat bulu kuduk saya berdiri. Saya singkap gorden jendela depan, berusaha melihat ke luar rumah. Sepi senyap. Hanya suara lolong anjing yang semakin lama semakin memilukan, lirih, dan hilang. Saya merasa banyak mata yang memperhatikan saya. Saya merasa diawasi.
Saya merasa sia-sia dengan memanggil ketiga paranormal yang datang sore tadi. Antara marah, sedih dan kalut. Entah berapa paranormal yang pernah kami panggil untuk mengusir hantu-hantu itu. Pada kenyataannya selalu manjur di depan saja, dan hantu tetap meneror kami kembali. Yang terjadi malam ini lebih parah, di luar dugaan. Para hantu seperti ngamuk dan tidak terima.
Beberapa hari kemudian saya mendapat saran bahwa untuk mengusir hantu, harusnya dengan bantuan orang pintar setempat atau orang pintar yang asli kelahiran daerah dimana terdapat ancaman hantu tersebut, didapatlah nama-nama orang pintar, orang pintar asli kelahiran daerah sini.
Suatu sore, saya bersama anak dan istri, sedang berada di rumah salah satu sesepuh tempat kami tinggal, namanya Pak Ma’ih. rata-rata orang di sini mengenal nama Pak Ma’ih. Orangnya sudah cukup berumur tua tapi masih nampak gurat semangatnya. Selesai shalat, Pak Ma’ih membacakan doa-doa panjang. Mulutnya komat-kamit dengan mata terpejam.
“Kenapa kamu ganggu keluarga ini?” begitu suara yang keluar dari mulut Pak Ma’ih yang kemudian dijawab sendiri dengan suara yang kali ini lebih berat dan serak.”Itu memang rumah tempat kami tinggal, apa salah kami?” demikian suara serak itu menjawab.
“Ya sudah, kamu dan teman-temanmu pindah dari sana” suara asli Pak Ma’ih.
“Siapa yang lebih dulu di sana? kami lahir dan besar di sana” demikian kira-kira sedikit percakapan monolog yang terjadi antara Pak Ma’ih dengan “dirinya” sendiri. Intinya, para hantu itu tidak mau dipindah. Kamipun hanya bisa pasrah. Lalu Pak Ma’ih bicara pada kami agar tidak lagi memindah atau mengusir makhluk-makhluk halus yang ada di rumah kami.
“Dipindahkan kemanapun, diusir kemanapun, mereka akan tetap kembali, entah untuk beberapa saat, entah untuk selamanya” kami diam. Pak Ma’ih melanjutkan bicara.
“Ibarat tanah kelahiran kita, kemanapun kita merantau pergi, suatu saat akan rindu dan pulang lagi sekedar menengok atau kembali pulang ke rumah tempat kelahiran kita.”

Akhirnya kami pulang dengan perasaan lebih plong. Lega rasanya. biarlah hantu-hantu itu tetap datang-datang lagi tidak apa-apa, toh Pak Ma’ih sudah berusaha mengungsikan mereka ke tempat yang jauh. kamipun bertekad untuk tidak peduli jika sewaktu-waktu para setan itu mendatangi rumah kami lagi. Kami bertekad, biarlah hantu-hantu itu tetap tinggal di rumah kami, yang penting kami tidak diganggu. Memang selama ini kami sangat ingin mengusir keberadaan mereka, ternyata malah tidak seperti harapan kami. Pada kenyataannya omongan Pak Ma’ih terjadi juga. Belum genap satu bulan sejak komunikasi kami dengan Pak Ma’ih yang telah mengungsikan para hantu dengan damai, hantu-hantu laknat itu mulai bermunculan kembali.
Suatu malam, kebetulan ibu mertua sudah bersama kami lagi, beliau sengaja datang dari Jawa Timur karena kangen pada cucu dan kasihan setelah mendengar cerita kami. Malam itu seperti biasa saya mengerjakan tugas-tugas dari kantor. Ohya, ibu mertua saya ini tidur di kamar tengah yang ada jendela persis bersebelahan dengan ruang tempat saya biasa main komputer. Jadi dari jendela itu, bila kita berada di dalam kamar ini akan dapat melihat jelas keadaan ruang tengah. Tentunya bisa juga melihat siapapun yang sedang ngetik atau browsing di depan komputer di ruang tengah. Ibu mertua saya ini tiba-tiba lemas dan membiru. Kami panik, tapi saya mahfum dengan apa yang mungkin telah terjadi.
Siangnya ibu mertua cerita kepada saya, pada saya sendiri. Kata ibu, setiap malam setiap saya duduk di depan komputer, ibu mertua juga melihat saya sedang mondar-mandir di ruang tengah. Bahkan tadi malam sosok yang menyerupai saya masuk ke dalam kamar ibu mertua saya sambil menatap tajam ibu mertua saya, lalu membentak “Kamu pulang atau mati!” Ya. Itu yang diucapkan sosok yang menyerupai saya persis, sambil tetap melotot.
Akhirnya, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka saya setuju saja saat ibu mertua saya pulang sehari setelah adanya teror itu.


BAGIAN TUJUH
Kepulangan Ibu mertua saya ke Jawa Timur cukup membuat istri saya agak terguncang. Baru saja sedikit lega bisa menikmati hidup dalam kenyamanan bersama Ibu, kini harus kehilangan lagi, meski hanya untuk sementara saja. Tapi saya tahu, hal itu sangat berpengaruh pada ketegaran istri saya.
Tak terasa dua tahun lebih lamanya, anak kami tumbuh menjadi anak yang sehat dengan kulit putih dan sorot mata tajam. Dia memiliki daya penglihatan ‘lebih’. Ia sering mengerti apa yang sedang terjadi di hadapannya. Mungkin karena terbiasa melihat kerumunan hantu, si kecil jagoan kami menjadi peka pada barang-barang yang kasat mata.
Tempo hari istri saya sempat bercerita, dia bersama anak kami, menyetrika pakaian di kamar pembantu. Pada saat istri saya asyik menyetrika, anak saya jalan-jalan sendiri keluar masuk kamar, kadang jalan, kadang dia berlari-lari kecil. Mungkin sudah capek, anak saya masuk lagi menemani ibunya. “Capek ya Ma..?” Tanya si kecil. “Iya nak..” istri saya menjawab sambil lalu, sekenanya saja. Lalu anak saya nyeletuk dengan berkata “Ma.. Mama.. kenapa nggak minta bantu mbak itu saja?” begitu celoteh sikecil dengan suara cadelnya, sambil tangannya menggelayut ke tubuh ibunya.
“Gimana?” tanya istri saya kurang faham. Anak saya lalu menunjuk ke tembok kamar sambil berkata “Itu Ma.. Kenapa nggak minta gosokin mbak itu saja?” Istri saya bergidik mendengarnya. Ia memandang ke arah depan tempat yang ditunjuk oleh anak kami. Bulu kuduknya semakin merinding, tapi ia tetap tabah.
Meskipun untuk hal-hal yang kasat mata ini istri saya kurang peka dan kadang tidak bisa merasakan kehadiran makhluk halus, tapi dia termasuk pemberani untuk ukuran keberanian seorang perempuan. Kadang-kadang kalau saya sedang dihinggapi rasa takut yang sangat, justru istri saya lah yang seakan lebih menjadi berani dari saya. Dia bisa menjadi seorang herobila teman di sampingnya berubah menjadi lemah.
Beberapa anak tetangga teman bermain anak kami, sering datang ke rumah. Usia mereka sebaya dengan usia anak kami. Memang menginjak usia hampir empat tahunan ini si kecil sengaja kami ajarkan untuk bersosialisasi dengan orang lain, minimal dengan teman sebayanya. Tapi sayangnya setiap kali teman-temannya bermain ke rumah, salah satu dari mereka pasti ada yang ketakutan dan cepat-cepat menjauh pergi. Jawaban anak-anak kecil itu selalu dengan menirukan gerakan loncat-loncat kecil seperti gerakan vampir dalam film China. Ach, tidak. Lebih mirip gerakan pocong yang meloncat-loncat kecil. Akhirnya istri saya lah yang lebih sering mengantar bermain anaknya ke rumah tetangga, daripada mendapati hal kejadian yang sayah.
Suatu hari, Saya belikan dia mainan kolam renang dari karet seperti yang banyak dijual di pinggir jalan. Saya bahagia sekali melihat anak saya gembira. Paling tidak, ibunya tidak lebih tegang lagi. Pernah di suatu kesempatan anak kami berenang sendiri di dalam kolam renang plastik itu. Tak lama anak kami bermain air, tiba-tiba anak saya kelihatan sangat pucat dan suhu badannnya panas tinggi, bahkan lama-lama seperti membiru. Tiga hari anak kami diopname di Rumah Sakit Simpangan Depok. Hampir setiap waktu anak kami berteriak meminta pulang, sementara obat-obat dari dokter yang diberikan tak kunjung menurunkan panas tubuhnya.
Anak kami selalu meminta di bawa ke luar ruangan sambil memanggil-manggil namanya sendiri. “Pijar… pijar…” begitu selalu yang diucapkan anak kami. Pada hari kedua, seorang bocah pengunjung rumah sakit yang kebetulan lewat bersama ibunya didepan kami, ketakutan dan lalu berlindung pada ibunya. Mukanya langsung disembunyikan ke baju ibunya. Bocah ini ternyata Indigo yang bisa melihat secara langsung pemandangan kasat mata di hadapannya.
“Takut Bu, Nenek itu.. Bu…” begitu kata si bocah. Ibunya lalu menjelaskan pada kami perihal anaknya itu. Rupanya si bocah melihat ‘seorang’ nenek-nenek dengan wajah yang sangat buruk terus memegangi tangan anak saya.
Saya yang sedang berusaha menenangkan anak saya yang rewel itupun langsung membaca doa-doa. Ibu-ibu yang lain membacakan ayat-ayat suci ke dalam gelas, lalu air itu diminumkan pada anak saya. Anak saya sedikit tenang, tapi selang satu jam kemudian anak saya rewel lagi sambil terus memanggil-manggil namanya sendiri. Suaranya bergema, terdengar agak lain dengan suara anak saya dalam kesehariannya. Secara logika, tidak mungkin seseorang akan memanggil-manggil namanya sendiri bila dalam kondisi yang sadar. Saya seperti tersadar bahwa adanya anak saya memanggil-manggil namanya sendiri adalah bukan kemauan anak saya.
Seorang pengunjung lain memanggilkan tetangganya yang biasa menangani anak yang ketempelan setan, jurig, atau Hantu, namanya Pak Nano. Dengan bantuan Pak Nano inilah, akhirnya anak kami bisa sehat lagi dan panasnya normal kembali. “Anak bapak memang ada yang mengikuti” Begitu penjelasan Pak Nano. Selanjutnya Pak Nano membacakan doa-doa dengan tanpa suara, hanya mulutnya saja yang nampak komat-kamit. Sampai menjelang Isya, Pak Nano bersama kami, menjaga anak kami agar tidak didatangi Nenek-nenek buruk rupa itu lagi. Dan memang, nenek-nenek itu tak lagi datang ke rumah sakit lagi ke tempat anak kami dirawat. Nenek-nenek itu kembali ke “rumah”nya, di rumah kami.
Semenjak kejadian itu, anak kami menjadi hyperaktif, nakal dan suka usil pada temannya. Karena rewel dan sering mengusili teman-temannya ini, lama-lama kami jengah juga. Berbagai referensi dari Internet, koran maupun saran teman saya lahap. Saya mencari referensi tentang penyembuhan anak hyperaktif. Hingga pada sebuah rumah sakit di Kelapa Dua, kami menemukan seorang psikolog, namanya Pak Rahmat. Kami sering berkonsultasi dengan beliau. Beliau jugalah yang banyak memberikan tips-tips dan berbagai cara penanganan untuk anak yang hyperaktif. Dari seringnya konsultasi ini, kami menjadi dekat dengan Pak Rahmat, hingga ada apa-apa yang menyangkut kenakalan anak, selalu saya konsultasikan padanya.
Suatu ketika saya mendapat telpon dari Pak Rahmat yang akan memberikan cara terapy anak hyperaktif.
“Bisa Bapak datang ke rumah saya?” kata suara di telepon.
“OK. Jam berapa Pak?” jawab saya.
“Nanti Jam 9 malam.” kembali suara Pak Rahmat.
“Nggak bisa siang saja Pak?” tanya saya, tapi jawaban Pak Rahmat tetap seperti semula, kami disuruh datang jam 9 malam.
Hujan baru saja berhenti mengguyur langit Cimanggis ketika jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam. Bau harum tanah yang terkena air menyebarkan aroma yang sedap. Mencium aroma ini saya teringat dulu waktu di kampung suka memakan makanan Ampoh, makanan kegemaran nenek saya dulu. Kami bersiap-siap berangkat menuju ke alamat rumah Pak Rahmat, agak jauh dari rumah saya. Si kecil digendong istri saya, keduanya dengan jaket tebal untuk menahan dingin udara malam. Sampai di tengah perjalanan motor saya mogok, tanpa sebab apa-apa. Sudah saya cek semua normal. Akhirnya kami berhenti di sebuah tempat dan baru melanjutkan perjalanan 30 menit kemudian. Tanpa bantuan siapapun, motor saya kembali bisa dihidupkan.
Sampai di mulut kampung tempat tinggal pak Rahmat, saya hubungi nomor telponnya. Lama tidak ada jawaban. Saya panggil lagi, tetap tak ada jawaban, bahkan nomor itu tidak aktif. Kami telusuri alamat yang pernah diberikan Pak Rahmat sekitar jam 10 malam Saya coba telpon lagi, baru ada jawaban. “Ya pak, saya tunggu” Kata pak Rahmat di telpon.
Suasana mendadak terasa dingin, kiri dan kanan jalan hanya tampak rumah-rumah yang sudah mulai tutup jendela. Suara lolong anjing tiba-tiba menyentak perasaan saya. Kami mulai merasa nggak enak. Tapi perasaan itu saya tepis dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, terlihat orang-orang berlalu lalang dalam diam. Semua diam. Kami berhenti, lalu seorang tukang ojek menghampiri kami. Tukang ojek ini mengenal pak Rahmat dan mengantarkan kami. Rumah pak Rahmat sederhana dengan pelataran parkir yang cukup luas. Di depannya berjajar pot-pot dengan tumbuh-tumbuhan berbagai jenis. Termasuk pohon bunga melati yang harum wanginya langsung tercium hidung saya, agak menyengat. Setelah memarkir motor, saya menggendong si kecil sementara istri saya mengikuti di belakang. Nggak lama kami menunggu, pak Rahmat muncul dari dalam dengan pakaian putih-putih, bersama istrinya.
Lalu pak Rahmat memperkenalkan istrinya. “Ini istri saya, Markonah” demikian pak Rahmat memperkenalkan diri. Setelah kami berbasa-basi sebentar, pak Rahmat masuk kembali ke dalam rumah, dan keluar kembali sambil menenteng sebuah buku besar. Buku yang sangat tebal tapi nampak sudah kumal. Saya nggak sempat menanyakan kenapa bukunya sudah nampak kumal begitu. setelah banyak memberi penjelasan mengenai hyperaktif dan terapi penangannya, pak Rahmat mengelus-elus leher dan kepala anak saya. sambil memijit dengan gerakan seperti orang sedang mengurut. “nanti jadi anak yang sehat dan pinter ya nak” ucap pak Rahmat, dan saya mengaminkannya.
Jam sebelas malam kami berpamitan, pak Rahmat dan istrinya mengantar kami sampai ke mulut gerbang rumahnya. Terdengar suara anjing melolong, panjang. Entah kenapa tiba-tiba bulu kuduk saya berdiri.
Kurang dari satu jam kemudian kami sudah sampai di rumah.
“Permisi ya,..” kata kami ketika masuk ke dalam rumah, seolah kami sedang melewati ‘orang-orang’ lain. Ini sudah menjadi kebiasaan kami beberapa waktu lamanya sejak banyak teror oleh hantu-hantu di rumah kami. Terbukti dengan kami lakukan ucapan permisi ini, gangguan hantu sedikit mereda. Badan kami letih, capek.
Udara yang dingin membawa kami ke dalam tidur yang lelap. Tidur dengan tanpa beban.
Beberapa bulan kemudian, hari itu kami bermaksud silaturahmi sambil mengkonsultasikan perkembangan si kecil. Kami berangkat siang hari, selesai dhuhur. Sesampainya di perkampungan pak Rahmat, rumah yang pernah kami singgahi dulu itu tak kunjung ditemukan. Kami pun mencari lagi, muter-muter lagi dan mencari persis seperti yang kami lalui malam itu. Kami juga menanyakan pada penduduk sekitar, tak ketemu juga. Lebih dari satu jam kami mencari, namun tetap tidak ketemu. Lalu kami tanyakan pada orang-orang yang tinggal persis di gang-gang yang pernah kami datangi waktu itu, tidak ada yang tahu.
“Pak Rahmat yang mana ya?”
“perasaan sini nggak ada yang namanya Pak Rahmat”
begitu rata-rata jawaban yang kami terima.
Karena sudah kepalang tanggung, kami berusaha mengingat-ingat lagi. kami ikuti jejak yang masih kami ingat. –Kami berhenti di sini, belok di sana, lalu ke sini, ke sini, ketemu belokan lagi, dan persis di depan lapangan.– Dengan pengurutan seperti ini seharusnya pasti ketemu. Tapi, ternyata tetap tidak!! Rumah itu tetap tidak kami ketemukan. Yang ada di tempat itu, tempat kami menemui Pak Rahmat dan istrinya itu hanyalah rumah tua dengan bagian atap rumah yang sudah tak terawat dan hampir roboh. Bahkan bagian dinding-dinding depan rumahnya sebagian sudah hancur dimakan usia. rumah itu seperti sudah puluhan tahun tidak pernah dihuni.
Karena tak percaya dengan pemandangan di depan mata kami, sne coba mengulangi lagi dari perjalanan awal, tapi ketemunya tetap rumah tua itu. Dan, semenjak itu HP pak Rahmat tidak pernah lagi bisa dihubungi. Kami tanyakan ke rumah sakit tempat pak Rahmat pernah dinas, tidak ada yang tahu alamatnya. Satu-satunya alamat, tempat yang kami datangi siang itu.
BAGIAN DELAPAN
Hilangnya pak Rahmat secara di luar nalar membuat saya penasaran. Beberapa hari kemudian saya sengaja mendatangi lagi, mengurutkan dari awal sejak perjalanan dari rumah kami ke tempat pak Rahmat. Rumah pak Rahmat tetap tidak dapat saya temukan. Tidak puas dengan pencarian di rute yang sudah ada, Saya menyusuri lagi jalanan di depan mata, tapi tetap nihil. Kemudian pencarian fakta ini Saya lanjutkan dengan mendatangi rumah sakit tempat dulu pertama kali kami berkonsultasi dengan pak Rahmat.
“Alamatnya, ya kami tidak menyimpannya selain alamat itu Pak.” kata Dokter Heny menjelaskan pada saya.
“Yang kami datangi itu tidak ada rumah lain selain rumah tua itu Bu.” kata saya sedikit menekan suara untuk memberi efek penting pada kalimat yang saya sampaikan.
“Menurut saya juga tidak jelas itu pak Rahmat…” kembali Dokter Heny.
“Maksudnya bagaimana Bu?” tanya saya.
“Pak Rahmat datang sendiri ke sini, melamar sendiri untuk bekerja di Rumahsakit ini” menjelaskan, Dokter Heny.
“O…” saya membentuk bulatan di mulut.
“Pak Rahmat juga berhenti dari rumah sakit ini dengan tanpa penjelasan apa-apa.” Saya terdiam, tak mampu mencerna lebih dalam tentang apa yang sedang kami bicarakan.
Saya pulang beberapa waktu kemudian. Penjelasan dari Dokter Heny cukup membuat saya merasa tidak perlu mencari dan melacak pak Rahmat lagi.
Pak Rahmat berhenti dengan tanpa mengajukan berhenti, tapi menghilang begitu saja Pak, tanpa pamitan.
Sepanjang perjalanan pulang, terngiang terus kata-kata Dokter Heny.
Sebuah tanya yang masih belum ada penjelasan sampai sekarang. Tapi dua kemungkinan yang bisa saya simpulkan dari kejadian itu mengenai pak Rahmat. Pak Rahmat itu sebenarnya bukan manusia, tapi makhluk gaib yang mungkin saja tingkatannya di dunia pergaiban sudah tinggi, atau mungkin pak Rahmat adalah makhluk gaib yang memiliki derajat tinggi sehingga bisa menjelma dan memanifestasikan diri secara langsung, menampakkan dirinya di dunia nyata. Kemungkinan yang kedua, pak Rahmat itu memang benar-benar ada dan beliau adalah manusia biasa, tapi orangnya mungkin sembrono dengan pergi begitu saja saat bosan dengan pekerjaan, sedangkan yang kami temui di malam itu bukan Pak Rahmat yang sebenarnya.
Lalu siapakah yang kami temuai pada malam itu? Mungkin saja itu adalah jin yang memiliki misi tersendiri sehingga merasa berkepentingan dengan menampakkan dirinya kepada kami.
Sudahlah, saya sudah suntuk dengan rutinitas kerja yang sudah memakan separuh waktu saya setiap harinya, ditambah dengan berbagai intrik. Saya tak mau lagi semakin memberati beban otak saya. Yang penting, saya selamat, anak istri juga selamat.
Anak kami sudah semakin bisa dikendalikan emosinya. Jika selama ini dia lebih sering mengusili teman-temannya, Pijar yang sekarang sudah mudah untuk dikendalikan dan mau mengerti keinginan dari orang-orang yang menyayanginya.
Bulan berganti, tahun pun ikut berganti. Selamat pagi alam, selamat pagi kehidupan. Pagi yang jernih, Pagi yang suci. Matahari bersinar menyapu wajah sebuah kampung, Kampung Sindangkarsa. Udara segar yang dibawa angin padang Golf Emeralda membuat ketegangan sSaya sedikit mengendur.
Di sebuah pondokan beratap asbes sederhana, duduk empat orang dengan pakaian seadanya. Salah satu diantara mereka mengenakan sarung, sambil terus menghisap rokok kretek di tangannya. Hari ini hari libur, saya bisa bebaskan sedikit beban dari rutinitas kerja. Setelah sekian lamanya waktu saya banyak tersita oleh kekalutan dengan menurunnya penghasilan, semakin lama semakin drastis. Pak Narto memberitahu saya, Pak Gimar sedang di pondokan. Pondokan Pemancingan Rohiman. Itulah yang menyeret langkah Saya ke pondokan sepagi ini. Laki-laki berkain sarung itu, namanya Gimar. Saya lebih sering memanggilnya dengan panggilan mBah Gimar. Bukan karena usianya yang sudah tua, tapi karena dia memiliki kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Melihatnya kehadirannya ini, Saya jadi teringat betapa dulu Pak Gimar cukup tangkas dalam “mengobati” Ratih, bekas pembantu saya yang saat itu kesurupan. Kata Pak Narto, mBah Gimar baru beberapa hari ini kembali ke Cimanggis, setelah lama dia pulang ke Sumatera.
“Bagaimana kondisi rumah Bapak sekarang?” Tanya pak Gimar, sambil matanya menatap saya. Yang lain terdiam, asyik menikmati hidangan singkong goreng dari pak Narto. Saya tidak langsung menjawab. Saya tergoda untuk menjajal sejauh mana Pak Gimar menebak suatu keadaan.
“Kelihatannya bagaimana Pak?” tanya Saya kemudian.
“Banyak lagi sekarang penghuninya ya?” kata Pak Gimar, balik bertanya.
Akhirnya Saya ceritakan kejadian-kejadian penting setelah kepergian Pak Gimar.
Pak Gimar antusias mendengarkan setiap kata demi kata yang Saya ucapkan. Kadang kepalanya menggeleng, kadang manggut-manggut. dari air mukanya kelihatan seolah sedang menerawang sesuatu.
“Bahkan HP saya, dua-duanya hilang Pak, sampai sekarang tidak kembali!” kata saya mengakhiri penjelasan seputar kejadian-kejadian yang pernah muncul di rumah hantu.
“HP-hp itu sudah tidak bakal ketemu, tidak bakal kembali lagi.” Kata pak Gimar mendesis
“Tolong diambilkan deh Pak, Pak Gimar kan bisa menembus Gaib…” kata saya berharap.
“Tidak bisa Pak, karena HP itu sudah menjadi Mahar” jawab pak Gimar, tegas.
“Mahar bagaimana pak?” tanya Saya, tak mengerti. Pak Gimar mematikan rokoknya yang tinggal sejengkal, kemudian menyalakan lagi rokok yang baru. sejurus kemudian dia berkata. “HP-hp itu diambil karena dipandang sebagai mahar Bapak”
Saya semakin tidak mengerti dengan pembicaraan Pak Gimar tentang mahar ini.
“Begini ya Pak, dari berpuluh gaib di rumah itu, ada salah satu yang berwujud perempuan cantik.”
“Perempuan cantik?”
“Iya”
“Lalu bagaimana Pak?”
“Dia cinta sama Bapak dan menikah.”
“Menikah???”
“Menikah bagaimana Pak? tolong jangan ngacau dong Pak”
“Dia sudah menikah dengan Bapak”
Bulu kuduk Saya langsung meremang. Tak pernah terfikirkan ucapan seperti itu akan keluar dari mulut seorang Gimar.
“Saya tidak pernah pacaran atau ketemu dengan makhluk halus yang Bapak maksud, apalagi sampai menikah?” Tanya Saya lagi, sambil menahan galau di hati.
“Itu oleh makhluk gaib bisa dikatakan menikah secara batin. Maka dari itulah kita perlu berdoa sebelum kita berhubungan badan dengan istri. Salah satunya agar makhluk halus tidak bisa mengambil kesempatan”
DugGGhh !!! Jantung saya berdegup, kencang. Saya terdiam.
Pak Gimar melanjutkan lagi. “Biar sekejap saja, makhluk halus bisa merasuk ke badan pasangan kita, dan itu dianggap mereka sudah menikah.” Saya semakin terdiam. “Tenang saja, Bapak tidak akan dirugikan…”
“Persetan pak, tolong Saya. Bagaimana caranya melepaskan diri dari itu?” Kata Saya kemudian,
BAGIAN SEMBILAN
Apa yang telah dikatakan Pak Gimar sangat membuat saya schok dan menjadi beban fikiran saya selama berhari-hari. Selama ini tak ada keganjilan mengenai apapun yang ada hubungannya dengan apa yang telah dikatakan oleh Pak Gimar. Ketidakpercayaan saya ini wajar karena saya juga tidak pernah mendengar ada pernikahan yang hanya diakui secara sepihak. Makhluk halus pula yang mengklaimnya, entah benar entah tidak ucapan Pak Gimar ini. Akhirnya Pak Gimar mengatakan bahwa apa yang telah dialami tidaklah menjadi gangguan apa-apa, karena bukan keinginan dari manusianya untuk mencintai.
Saya tidak percaya dan tak akan pernah mempercayai hal itu. Saya tak bisa mengatakan hal yang telah membuat saya murung itu pada istri saya. Tak ada gunanya membicarakan omong kosong yang telah dikatakan oleh Pak Gimar. Biarlah itu saya hadapi dan selesaikan sendiri omong kosong Pak Gimar ini.
Beberapa minggu kemudian, ketika gerimis menaburi atap dengan suaranya yang berisik, saya berada di dalam suatu taman besar. Tepat di taman itu terdapat sebuah kubangan besar yang menyerupai kolam renang. Saya hanya sendiri berada di dalam kolam renang itu. Air di Kolam renang itu hanya sedikit membasahi bagian kaki saya, tidak sampai melewati mata kaki. Tapi dingin air ini cukup membuat saya menggigil dan tak ingin sedikitpun saya membasahkan air ini lebih lama, apalagi menyentuhkan bagian lain tubuh saya. Pada sepanjang lekukan kolam renang yang luas ini banyak sosok manusia yang tidak menghirukan gerimis yang ada, semua dengan kesibukan masing-masing seperti dalam sebuah tempat wisata. Tampak di sebelah kiri dan kanan orang-orang sibuk berjualan dengan nampan-nampan besar di hadapan mereka, sementara para pembeli hanya saling tunjuk dengan apa yang diingininya, dengan tanpa suara. Yang terdengar hanya suara angin, suara rintik hujan, dan suara hati saya yang tak mengerti akan apa yang sedang mereka lakukan, akan apa yang sedang terjadi pada saya.
Nyata sudah bahwa yang sedang berdiri di kubangan basah ini hanya saya sendiri. Tak ada siapa-siapa di kolam ini, selain saya yang masih dengan seribu ketakmengertian. Lalu  saya paksakan mendekat salah satu tepi, melangkahkan kaki menuju garis tangga di depan saya. Dengan pakaian yang mulai basah dan tubuh dingin oleh gerimis, saya hampir mencapai garis tangga itu, sekitar empat langkah untuk saya bisa memanjat dan berlari menjauh dari kolam renang kering ini. Semakin mendekat garis tangga, semakin saya dapat melihat lebih jelas. Orang-orang itu, orang-orang itu… berwajah putih. Ya, mereka semua berwajah putih pucat. Pucat pasi, hanya bentuk oval di setiap lingkar luar pelupuk matanya saja yang mengurangi kepucatan wajah mereka. Saya tidak merasa takut, entah mengapa rasa takut itu tidak ada. Beberapa dari orang-orang itu seperti memperhatikan saya, tapi saya diam saja. Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya kerjakan. Saya terpaku di sana, diam. Saya merinding ketika tatapan mata saya tertuju pada salah satu wajah pucat pasi, wajah laki-laki misterius. Mirip, sangat mirip. Terlintas sebentuk Kucing besar berkelebat di pelupuk mata saya. Ya, wajah laki-laki itu sangat mirip dengan orang yang berkali-kali saya temui di sepanjang perjalanan saya ke Bogor waktu itu.
Orang-orang berwajah pucat itu terus memperhatikan saya, lalu serentak memalingkan pandangan dari saya dan manatap kedepan ketika dari Kejauhan tampak berjalan dua orang dengan berpakaian hitam satu orang Perempuan dengan langkah yang anggun, posisinya tepat satu langkah di depan sebelah kanan lainnya, laki-laki yang juga berpakaian hitam. Pakaian mereka memiliki motif seperti ukiran dari bordir keemasan. Perempuan yang sangat teramat cantik itu terus melangkah, diiringi laki-laki di belakangnya.
Beberapa saat kemudian baru saya sadari bahwa perempuan ini mengenakan penutup kepala yang tetap dapat memperlihatkan rambutnya yang indah, lebih menyerupai sebuah Mahkota keemasan. Mereka berhenti tepat didepan saya yang termangu dibawah kolam renang. Seperti ada kekuatan sayah yang membuat Saya melangkahkan kaki saya ke depan. Si perempuan ini menjulurkan tangan kanannya meraih tangan kiri saya, sambil tersenyum. Melihat senyuman itu saya merasakan sesuatu yang entah dimana dan merasa tidak asing dengan perempuan ini. Lalu dengan tetap meraih tangan kiri saya, si perempuan memakaikan sebuah cincin bermatakan batu besar berbentuk akik, dengan warna putih kecoklatan, besarnya menyerupai ibu jari dengan sebuah tulisan arab, seperti tulisan Asma Allah yang sering saya lihat dalam tulisan-tulisan di kertas maupun kitab.
“Saya seperti mengenal perempuan ini, tapi siapa?” kata hati saya.
Seperti mengerti isi hati saya, dia berucap “Iya. Aku yang datang…”
Setelah cincin dipakaikan dan melingkari jari manis saya, tiba-tiba saya seperti tersentak oleh sebuah kekuatan dan tak mendapati pemandangan itu lagi, tapi saya sedang terbaring di kamar utama saya, sendirian. Tangan saya meraba kedua kelopak mata saya, ternyata saya hanya mimpi. Jam di dinding menunjukkan pukul 2 dinihari. Saya baru ingat bahwa saya benar-benar sendiri di dalam rumah ini, anak dan istri saya sudah dua hari ini pulang ke kampung bersama ibu mertua yang sengaja menjemput mereka dua hari yang lalu.
Hari-hari yang kami jalani setelah itu adalah hari yang penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan kesialan. Perlahan namun pasti bisnis-bisnis saya mulai berjatuhan, bertumbangan dan banyak sekali masalah yang kami terima, entah sebab apa. Praktis saya hanya mengandalkan segala sesuatunya hanya dari hasil kerja pokok saya. Saya mengalami pengkhianatan yang begitu besar. Ratusan juta melayang karena uang saya dibawa lari orang yang telah saya percayai, hingga usaha yang telah saya rintis pun hancur dengan menyisakan hutang yang harus saya tanggung sendiri. Jika saja rumah dan segala perabotannya dijual semuapun tidak akan cukup untuk membayar jumlah hutang itu. Sedangkan saya tak dapat berbuat apapun juga.
Orang yang telah mengkhianati saya itu lalu meninggal karena bunuh diri. Saya hanya bisa pasrah, tapi pasrah yang bagaimana, Saya tak mengerti. Hari berganti minggu, berganti bulan… tahun ketiga saya bertahan, saya sudah tidak punya apa-apa lagi dan pintu-pintu rejeki saya seperti tertutup (ditutup?). Beruntung saya masih dilindungi Allah. Saya tetap bertahan, sampai tahun ke tiga Saya tinggal disana dengan menanggung duka dan kepedihan. kami mempertahankan hidup seadanya saja. Semua gaji langsung habis untuk mencicil hutang, beratus juta, tapi saya bersyukur tidak sampai mati bunuh diri.
Ditengah kefrustrasian saya, istri saya mengajak ke seorang ulama yang cukup terkenal dan sering muncul di TV. Dari sanalah akhirnya tepat tahun ke empat saya sekeluarga tinggal di rumah sialan itu, saya sedekahkan hampir semua barang-barang yang saya miliki dan hanya hanya sisa sedikit bekal untuk kami sekeluarga menempuh hidup baru setelah keluar dari rumah hantu.
Rumah itu saya jual murah, hanya separuh harga dari saat saya membeli dulu. Saya tidak berfikir untuk menjual lewat kaskus, karena meskipun saya sudah punya ID kaskus sejak tahun 2008 tapi saya tidak mengikuti. Rumah sengaja saya jual murah karena memang orang-orang sekitar juga sebagian sudah pada tahu kalau rumah itu berhantu. Saya mulai lagi semuanya dari Nol.
Alhamdulillah semua hutang itu akhirnya bisa lunasi setelah saya keluar dari Rumah Hantu itu.
Kini saya menjalani hari-hari saya bersama anak dan istri saya, dengan usaha yang kami rintis dari nol lagi dan Saya lebih tenang dalam menjalani profesi saya sebagai Anggota Pasukan Elit di Kepolisian.
Beberapa waktu yang lalu, kira-kira belum genap tiga bulan, saya ketemu dengan Pak Yusnadi, RT tempat tinggal saya dulu. Pak Yusnadi ini bercerita bahwa 3 bulan semenjak transaksi jual beli rumah saya itu, Pak Abdul (bukan nama sebenarnya) mulai menemui banyak kesialan. Padahal, dia orang yang sangat berada dan bahkan memiliki usaha semacam pabrik di luar negeri, Malaysia. Tanahnya berceceran berhektar-hektar, di mana-mana. Entah mengapa Pak Abdul ribut besar dengan keluarganya sendiri dan belum genap satu tahun Pak Abdul memiliki rumah itu, Pak Abdul meninggal dunia secara mendadak.
Ada orang yang bilang bahwa Pak Abdul meninggal karena serangan jantung, ada juga yang bilang bahwa kematiannya misterius. Sepeninggal ane dari rumah itu, oleh istri Pak Abdul rumah itu dikontrakkan pada seorang pendatang, seorang ibu-ibu. Entah kebetulan entah karena faktor apa, si Ibu ini juga mengalami kesialan yang juga luar biasa. Usaha yang dia rintis di rumah itu selalu mengalami kebangkrutan. Bahkan dia …(terpaksa tidak bisa ane share dulu krn ane belum minta ijin utk share hal dia ini)
Selain dengan diperlihatkannya makhluk yang sering turun dan naik ditangga, si Ibu ini juga mendapat teror dalam bentuk lain, termasuk usahanya. Berkali-kali buka usaha selalu berakhir dengan kebangkrutan.
Mendengar cerita Pak RT ini, saya merasa bersyukur dengan melepas rumah hantu itu. Rumah yang sering hampir membunuh saya karena keanehan dan pengaruh aura negatifnya.
Dengan wajah yang seperti diliputi rasa takut, pak RT melanjutkan ceritanya. “Rumah itu nggak hanya terdapat 3 buah makam di bawahnya, tapi 13″ dari ingatan para sesepuh. Beberapa dari makam/kuburan itu sudah ada sejak jaman Jepang. Ada nada sesal ketika Pak RT mengucapkan kalimat itu, seperti ingin menarik kembali ucapannya tapi tidak bisa.
“Lalu bagaimana dengan kesepuluh makam yang masih ada itu Pak?” tanya saya.
“Makam itu masih tetap ada di sana, tidak bisa dipindahkan.” Kalau memindahkan jasad-jasad itu berarti harus membongkar total rumah itu karena letak makam-makam itu persis di bawah pondasi rumah” Tergambar nada ketakutan dari mimik muka Pak RT yang kelihatan menegang, seperti ada desiran aliran darah yang membuat saya bergidik, ngeri. Tak pernah terbayangkan bahwa selama ini kami, tinggal di rumah yang berhantu, dengan kuburan yang tidak hanya 3, tapi tigabelas makam di bawahnya.
“Pak RT, ada sosok perempuan dengan wajah dan tubuh berlumuran darah di rumah itu..” Ane kembali memancing pembicaraan dengan Pak RT. “Iya, benar. di sana pernah ada yang kecelakaan, seorang perempuan yang kecelakaan dengan kondisi yang sangat mengenaskan, di depan rumah itu” Menurut teman saya yang mengerti, ibu itu mati penasaran” Jlebbh..!! kembali, bulu kuduk ane meremang.
“Lalu kenapa lampu-lampu yang kami pasang selalu tidak awet?”
“Sudah dari sananya… Bahwa lampu atau lilin yang dinyalakan di atas kuburan itu dilarang, dan akan selalu cepat mati/tidak awet. Dan lagi pula, para dedemit, hantu blau, setan peri prahyangan tidak suka dengan keadaan terang”
Saya pandangi rumah itu. Rumah dengan kiri kanan kesunyian. Dindingnya seperti menyiratkan senyuman sinis dan kemanangan. Di sebelah kanan rumah itu, yang dulunya kosong, tetap kosong. Di sebelah rumah kosong itu, sekarang sudah ada penghuninya, seorang penghuni baru. pemilik lama pindah dan dibeli oleh orang baru, seorang Batak. Tapi di seberang rumah itu, yang dulu terdapat rumah besar tapi dibiarkan kosong, sampai sekarang tetap kosong. Bayangan hitam atapnya yang menjulang tinggi akan selalu melemparkan kengerian bagi orang yang melihatnya di waktu malam.
Saya bergidik, ngeri ketika melewati tanjakan di depan bekas rumah saya, yang telah membawa korban kecelakaan berkali-kali dari sejak saya belum tinggal di sana sampai setelah saya pindah.
Angin padang Golf Esmeralda merayapi pori-pori kulit tubuh saya, terasa dingin seperti melepaskan kerinduan pada pertemuan setelah sekian lama terpisah. Saya suka dengan sejuknya anginmu, saya suka dengan kesunyian dan dingin hawamu di waktu malam. Tapi saya tak ingin hidup tergadai oleh rasa takut yang berkepanjangan, selamat tinggal rumah hantu, selamat tinggal kesunyian, selamat tinggal kesialan. Kuingin kau menjadi doa bagiku, doa untuk ketenangan dan ketentraman di hari-hari kedepan yang harus saya lalui, bersama anak-anak saya, bersama istri saya yang setia, sampai hari tua nanti.
Source: www.ronywijaya.web.id/2012/03/cerita-rumah-hantu-cimanggis-depok.html
EMPAT TAHUN MENGHUNI RUMAH HANTU 9 Out Of 10 Based On 10 Ratings. 9 User Reviews.
Share 'EMPAT TAHUN MENGHUNI RUMAH HANTU' On ...

Ditulis oleh: Daniel Lim - Sunday, June 10, 2012
Comments
1 Comments

1 Komentar untuk "EMPAT TAHUN MENGHUNI RUMAH HANTU"

Pembaca yang pintar adalah pembaca yang berani berkomentar

Saya akan sangat menghargai komentar anda :D

Komentar SPAM dan Live Link akan dihapus

Terima Kasih